Wednesday, September 19, 2012
Tak Ada Pengusiran Adam dari Surga
Thursday, November 24, 2011
Memahami Proses Operasi Jibril Pada Diri Muhammad
Tuesday, October 11, 2011
Menangkap Jibril
Dengan tidak bermaksud mengesampingkan ajaran dari agama ataupun keyakinan lainnya, untuk dapat mengidentifikasi Jibril, saya akan memakai metode identifikasi pada saat diterimanya wahyu oleh Nabi Muhammad dari Allah Swt. Dikisahkan, bahwa ketika pertama kali Rasulullah menerima wahyu pertama di Gua Hira, keadaan Beliau saat pulang ke rumah dalam keadaan menggigil seperti ketakutan, dan seluruh tubuhnya merasa bergetar sehingga meminta keluarganya untuk menyelimuti dirinya hingga bergetarnya hilang. Di lain kisah disebutkan bahwa ketika menerima wahyu, beliau seperti mendengar bunyi lonceng yang sangat tinggi hingga tubuh Beliau merasa bergetar. Ya, bergetar setiap kali beliau menerima wahyu. Lantas, apa yang menyebabkan Beliau bergetar? sementara di saat wahyu pertama diturunkan, beliau tidak pernah melihat sosok Jibril.
Untuk melengkapi identifikasi, bahwa Jibril adalah malaikat, sehingga tentunya Jibril terbuat dari cahaya, karena disebutkan bahwa malaikat terbuat dari cahaya. Meskipun terbuat dari cahaya, tentu kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa malaikat adalah cahaya, tapi setidaknya kita bisa memulai dari mengidentifikasi cahaya. Menurut Wikipedia, bahwa Cahaya adalah energi berbentuk gelombang elekromagnetik yang kasat mata dengan panjang gelombang sekitar 380–750 nm.[1] Pada bidang fisika, cahaya adalah radiasi elektromagnetik, baik dengan panjang gelombang kasat mata maupun yang tidak.
Kita ambil simpelnya aja, bahwa cahaya merupakan energi berbentuk gelombang elektromagnet. apa itu gelombang elektromagnet? Gelombang elektromagnet adalah gelombang yang dapat merambat meskipun tanpa melalui medium, dan kecepatannya adalah merupakan kecepatan cahaya. Gelombang elektromagnet terdiri atas beberapa jenis gelombang, yakni : gelombang radio, gelombang televisi, gelombang mikro, inframerah, cahaya tampak, sinar ultraviolet, sinar x, sinar gamma.
Terus, bagaimana kita bisa mengubungkannya dengan cerita diterimanya wahyu oleh Muhammad?
Menurut pandangan saya, sangat jelas dan nampak, bahwa konsep diterimanya wahyu oleh Rasulullah adalah dengan menangkap getaran (gelombang elektromagnet) sebagai akibat adanya suatu Zat yang memancarkan gelombang tersebut. Dalam hal ini, kalau dikaji secara ilmu fisika, bahwa Muhammad sebetulnya sedang bertindak sebagai penerima gelombang (receiver/radio) dan yang menyiarkan gelombang tersebut adalah Dia yang Maha Pemilik Gelombang yang sedang bertindak sebagai Sesuatu yang memancarkan gelombang (transmitter/stasiun radio). Lantas, siapakah Jibril? pandangan saya, bahwa Jibril tidak lain dan tidak bukan adalah gelombang elektromagnet itu sendiri.
Oh... apakah dengan begitu apakah saya akan mengatakan bahwa untuk menangkap Jibril adalah dengan menyetel radio begitu? Saya tidak akan menyebutkan seperti itu, karena gelombang elektromagnet tidak harus ditangkap oleh radio, dan saya sendiri tidak tahu persis termasuk jenis gelombang elektromagnet manakah Jibril itu, apakah gelombang radio, televisi, inframerah, atau lainnya? karena semua gelombang hampir bisa dijadikan sarana untuk mengirimkan paket-paket data/informasi. (ingat teknologi infra merah pada HP?).
Yang ingin saya tekankan di sini, bukan menangkap gelombang-gelombang tersebut dengan alat-alat fisika, namun saya ingin tekankan bahwa tangkaplah gelombang tersebut dengan jiwa, ya, jiwa yang merasakan getaran akibat menyatunya frekwensi jiwa kita yang lemah dengan frekwensi Dia Yang Maha Pemilik Frekwensi. Karena syarat untuk dapat diterimanya gelombang tersebut oleh radio adalah dengan sama persisnya antara frekwensi penerima dan pemancar. Sedekat apapun stasiun radio/televisi di rumah kita, maka tidak akan tertangkap siarannya jika kita tidak memiliki radio/televisi dan mengetahui frekwensi gelombangnya. Begitupun jiwa kita, walau dikatakan bahwa Tuhan lebih dekat daripada urat lehermu, tidak akan pernah kita rasakan kehadiran-Nya jika kita tidak berusaha menangkap dan mengetahui frekwensi sejati-Nya.
Wallahu a'lam bishowab
Oleh : Husnul Yakin Ali
Thursday, September 29, 2011
Ayat yang Memungkinkan Penjelajahan Ruang-Waktu
Kemungkinan yang kedua, manusia bisa menembus ruang-waktu dengan cara menekuk lembaran waktu yang terhampar dan melengkung akibat dipengaruhi oleh gaya gravitasi benda langit. Hal ini dikabarkan dalam surat Al-Kahfi ayat 1
Monday, September 5, 2011
Aksi Vs. Reaksi
Saturday, September 3, 2011
Konsep Teleportasi
Relativitas Hari Akhir
Fisika Vs Metafisika
Pada hukum fisika, energi tak kasat mata tersebut salah satunya adalah adanya gelombang elektromagnet yang tidak bisa dilihat secara kasat mata namun keberadaannya memang diakui dalam konsep hukum fisika. Sementara pada konsep hukum metafisika, kemungkinan besar apa yang dinamakan goib (tak kasat mata) juga adalah energi dimaksud.
Perbedaannya adalah terletak pada bagaimana mengolah energi itu.
Kalau dalam hukum fisika, sehubungan hukum ini merupakan produk akal, maka media yang digunakan untuk mengolah energi tersebut merupakan hasil rekayasa akal fikir manusia berupa produk berwujud. Sedangkan dalam hukum metafisika, ia menggunakan produk jiwa, sehingga manusia sendiri pun dapat menjadi medianya.
Ingatlah, meskipun Allah menyatakan "Kun Fa Yakun" ketika menciptakan Alam semesta, namun ternyata penciptaannya melalui suatu proses ilmiah (dapat diteliti dan diamati menggunakan hukum fisika), sehingga sangat seharusnya "Abrakadabra" pun melalui sebuah proses ilmiah, sehingga suatu saat nanti dapat dijelaskan secara ilmiah perpindahan kerajaan Ratu Balqis yang hanya sekejap mata. Oleh karenanya sangat dimungkinkan suatu saat nanti ditemukan teknologi untuk memindahkan benda dalam jarak ratusan kilometer hanya dalam hitungan detik.
Wallahua'lam bishowab
Oleh : Husnul Yakin Ali
Inilah salah satu konsep "Abrakadabra" dalam pandangan ilmu fisika klik disini
Wednesday, August 31, 2011
Miniature of God, Angel, Satan, Jinn and Humans
This paper I underlying with the question:
How can we understand the greatness of the Lord if we do not understand and know the smallest thing created Him?
The universe is so vast, as vast as our eyes seeing. It is formed by various kinds of matter and energy that is very abundant. And it turns out the energy and matter are so abundant in the universe this is something that was formerly united, which they then away from each other and expand due to an explosion that is extremely powerful and that known by the term “Big Bang”.
“… … … .. that the heavens and the earth were of one piece, then We parted them. And We made from water every living thing. So will they not also believe? “Al-Ambiyya: 30
But did you know, what that make up matter and energy that is currently the principal compilers of the universe? None other he’s just a bunch of very tiny particles called can not be divided again later known as atoms. So, what kind of creature that the atom? Here I will not discuss in depth about the atom, but I just want to introduce about miniature life and the life contained within the atom.
Atomic nuclei are composed of atoms, in which there are electrons, protons, and neutrons. Electrons are subatomic particles are negatively charged, while the proton is a subatomic particle is positively charged, and neutrons are subatomic particles with no charge. So, why I call it a miniature of God, Angels, Satanic, Jin and Human? What correlation? and why God could be miniaturized? Is not God is great and can not be equated with the creature?
Okay, we open one by one
My analogy of positively charged particles as an angel, the reason is, by its nature, is often interpreted that the positive meaning of goodness, while negatively charged particles as satan my analogy, the reason is that the negative sense is often equated with ugliness. So, where lies the human, jin, and God himself? Human and Jin are beings created for the three subatomic particles itself, namely Proton, electrons and neutrons. Why is that? because between Jin and Man are all potentially bring the nature of good and evil nature, depending on where the particles are more contained within him. So, God is what?
Before answering what God is, I open the unique facts about atoms.
If we further divide subatomic particles, then it will get a vibration energy in every subatomic particle that moves and keep every subatomic particle in the position and trajectory.
So did I would say that God is the vibrations of energy? I would say that God is the source of all sources of energy vibrations, because the vibration energy is the product of a source that vibrates. If then God is the source of energy from the smallest sub-particles, meaning God is smaller than His creatures? And how the analogy?
I say that God is the source of all sources of energy vibration is only to facilitate understanding when God shall stand alone free from all forms of influence interpretation of the creature, because there will be no creature if there is no source that created it. Due to current conditions God has created beings, then its existence can not be separated from His creatures, nor is said to be smaller than the creature is said even though the source of vibration is at subatomic particle. Rather he is an integral part of the creature itself, there is the nature of HE, so the existence of God will always accompany the motion of each step of His creatures wherever he is in this universe.
To better understand it in depth, after God created the sub-atomic particles, then he is responsible for all the regularity of his creation, it creates other things that accompany the creation of matter in the form of things that can not be observed by naked eye, for example, is the emergence of centripetal and centrifugal forces that keep the subpartikel atomic spins on its trajectory.
So how to understand God when He created beings?
God is the totality of causality, in this case, God is the totality of the source of all energy sources, energy, materials, everything that is caused by matter and energy, and everything surrounding the matter and energy in question, both tangible eye or invisible, and the totality that is called Sole.
This is a miniature modeling, now please pull into the large object (the universe) and the totality that is what is called the universe, so that understanding God is Great (Allahu Akbar), and God is Supreme Sole
No single creature in the universe that is not composed of atoms and subatomic particles and energy, from living to inanimate objects, and none of the atomic and subatomic particles that are not driven by the vibrations of energy, and none of the vibrations of energy who do not have the source. So it deserves then the Lord said:
“And to Him are the keys of the unseen; no one knew except Himself, and He knows what is on land and at sea, and not a leaf but He knows who killed (again), and do not fall a seed-even in the dark earth, and not something that is wet or dry, but written in a clear (Lawh Mahfouz) “Qs. Al-An `am [6]: 59.
Which body part that is not composed of subatomic particles arrangement?
That’s the answer from the ancient statement “God is everywhere, God is closer than veins neck”, and this is probably the intent of the concept of “Manunggaling Kaula-Gusti” Sheikh Siti Jenar.
Prophet Muhammad said the term God as “Allah”, Doctrine Sundanese Wiwitan have called “Sang Hyang Kersa”. You call it what?
This article inspired me from various discussions on Blogernas Facebook Group, a group created by Erianto Anas, a person who has been blamed as a spreader of hatred against Islam.
Wallahua’lam bishowab
By: Husnul Yakin Ali
For those of you who are interested to quote part or all of the contents of this article are welcome, please included the source and author.
Ruang Waktu (Bagian 4)
Ruang Waktu (Bagian 3)
Tahukah Anda? Bahwa dikala malam terang benderang, langit tak tertutup awan, dapatlah kita pandang cahaya bintang bertaburan nan indah menghiasi jagad raya. Menurut para ahli, bahwa rasi bintang yang terdekat dengan matahari dinamakan dengan Alfa Centauri. Jarak bintang ini ke sistem tata surya kita adalah 4,2 sampai 4,4 tahun cahaya. Artinya? Jika kita berkesempatan melihat rasi bintang ini, maka kita sedang melihat cahaya bintang Alfa Centauri pada masa 4,2 sampai 4,4 tahun yang telah lampau. Menurut konstanta Einstein, bahwa kecepatan cahaya adalah 3x10p8 m/s. Jadi kalau kita membuat perhitungan, bahwa 4,4 tahun cahaya = 60 detik x 60 menit x 24 jam x 365 hari x 4,4 tahun x 3 x 10p8 m/s. (p = pangkat) Jadi jarak antara rasi bintang Alfa Centauri ke sistem tata surya kita adalah 39.398.400.000.000.000 m, atau 39.398.400.000.000 km.
Bilamanakah kita dapat dikatakan menembus ruang dan waktu?
Seandainya kita dapat mencapai Rasi Bintang Alfa Centauri dengan kecepatan 3 kali lipat kecepatan cahaya, maka kita akan mendapati 1,4 tahun lebih cepat ke masa lalu bintang terebut. Masih dengan kecepatan tersebut, seandainya sesampainya kita ke rasi bintang Alfa Centauri kita dapat memancarkan cahaya lebih kuat atau sebanding dengan cahaya di rasi bintang tersebut dan segera kembali lagi ke bumi dengan kecepatan yang sama, maka kita baru bisa mendapati cahaya yang kita pancarkan pada 1,4 tahun ke depan yang dapat kita lihat di bumi dengan mata kepala kita sendiri. Jadi dengan kecepatan tersebut kita telah dapat menembus masa lalu rasi bintang Alfa Centauri yang berjarak 39.398.400.000.000 km dari sistem tata surya kita. Dengan peristiwa tersebut pula sebenarnya ketika kita kembali ke bumi (masa kini) maka kita telah mengetahui (menembus) masa depan rasi bintang Alfa Centauri untuk 1,4 tahun ke depan, yakni, bahwa 1,4 tahun yang akan datang, kita sudah mengetahui bahwa kita akan dapat melihat cahaya yang telah kita pancarkan di rasi bintang Alfa Centauri 1,4 tahun yang lalu. Itulah yang saya sebut bahwa masa lalu, masa kini dan masa depan adalah paralel.
Dapatkah kita menembus masa lalu kita dalam kondisi ruang yang sama (jarak yang tetap)?
Untuk mengetahui jawabannya Klik Disni!
Oleh : Husnul Yakin Ali
Ruang Waktu (Bagian 2)
Sampai saat ini pun saya masih bertanya tanya apakah betul waktu dapat membuat sebuah ruang layaknya frame dalam sebuah film bergerak? Padahal keberadaan ruang dan waktu sementara menurut penafsiran kita hingga saat ini adalah sesuatu yang tak dapat dipisahkan.
Setidaknya, saya ingin mengambil referensi beberapa kisah ataupun kejadian yang berkaitan dengan ruang dan waktu.
Kisah yang pertama adalah kisah Nabi Sulaiman as. dengan Ratu Saba bernama Balqis. Dalam kisah ini tersiratkan sebuah kejadian yang berkenaan dengan ruang-waktu.
Maka bertanyalah beliau (Nabi Sulaeman) kepada pasukan Jinnya, siapakah diantara mereka yang sanggup mendatangkan tahta Ratu Balqis sebelum orangnya datang berserah diri.
Berkata Ifrit, seorang Jin yang tercerdik: “Aku sanggup membawa tahta itu dari istana Ratu Balqis sebelum engkau sempat berdiri dari tempat dudukmu. Aku adalah pesuruhmu yang kuat dan dapat dipercayai.” Seorang lain yang mempunyai ilmu dan hikmah berkata: “Aku akan membawa tahta itu ke sini sebelum engkau sempat memejamkan matamu.”
Ketika Nabi Sulaiman melihat tahta Balqis sudah berada didepannya, berkatalah ia: “Ini adalah salah satu karunia Tuhan kepadaku untuk mencoba apakah aku bersyukur atas karunia-Nya itu atau mengingkari-Nya, karena barang siapa bersyukur maka itu adalah semata-mata untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa mengingkari nikmat dan karunia Allah, ia akan rugi di dunia dan di akhirat dan sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Mulia.”
Terlepas dari cerita tersebut mengandung unsur magis ataupun tidak, namun dalam cerita itu didapat sebuah gambaran bahwa ada seseorang (ahli hikmah) yang dapat menembus jarak yang tentunya juga waktu hingga dapat membawa kerajaan Ratu Balqis dalam sekejap mata ke hadapan Nabi Sulaeman.
Kisah yang kedua adalah kisah Ashabul Kahfi
Dengan izin Allah mereka kemudian ditidurkan selama 309 tahun di dalam gua, dan dibangkitkan kembali ketika masyarakat dan raja mereka sudah berganti menjadi masyarakat dan raja yang beriman kepada Allah SWT (Ibnu Katsir; Tafsir al-Quran al-’Adzim; jilid:3 ; hal.67-71).
Dalam kisah ini, Allah menunjukkan kuasanya bahwa dalam dimensi ruang yang sama (dunia), ternyata para pemuda (Ashabul Kahfi) mengalami perlambatan waktu, sehingga ia ditidurkan oleh Allah selama 309 tahun, dan ketika mereka bangun, mereka merasa baru tidur satu malam saja.
Fakta Saat ini:
Coba kita renungkan, jika malam tiba dan langit cerah tanpa tertutup mendung, terlihatlah bertaburan cahaya bintang di langit. Apakah kita sadar?, bahwa dengan menatap cahaya bintang-bintang di langit sebetulnya kita sedang menatap masa lampau yang telah terjadi ratusan atau bahkan jutaan tahun yang lalu? kenapa? sebab cahaya yang kita lihat pada malam ini adalah cahaya yang datang ke bumi (mata kita) yang telah menempuh jarak ratusan tahun cahaya.
Hipotesa
Dari sini sementara saya mempunyai hipotesa bahwa masa lalu, masa kini, dan masa depan adalah sesuatu yang paralel dan terjadi dalam sebuah ruang (semesta) yang sama dan dalam waktu yang sama.
Ruang Waktu Bagian ke 3 Klik Disini!
Oleh : Husnul Yakin Ali
Ruang-Waktu (Bagian 1)
Dalam ruang pasti mempunyai waktu, tapi dalam waktu, apakah mempunyai ruang? Pertanyaan tersebut terus terang sangat mengusik pikiran saya selama ini.
Jika kita bicara ruang, di dalamnya akan ada yang dinamakan pergerakan maju, mundur, turun dan naik. Tapi jika kita bicara masalah waktu, yang dijumpai hanyalah pergerakan maju, maju, maju dan maju. Setidaknya hingga saat ini, karena belum ada satu manusiapun yang mampu menciptakan mesin waktu yang dapat mengatur waktu menjadi mundur, cepat, dan lambat.
Selama ini, sebagian kita masih berkiblat kepada teori relativitasnya mbah Einsten, yang menyatakan bahwa waktu ini adalah relative. Einstein berkutat bahwa ukuran waktu yang dipakainya adalah kecepatan cahaya, dan model-model yang digunakan untuk menyatakan bahwa waktu itu terpengaruh oleh gravitasi juga memakai model cahaya, karena cahaya dapat dibengkokkan atau terpengaruh oleh gravitasi. Lantas apa peranan dari cahaya tersebut terhadap waktu? apakah yang dinamakan waktu itu adalah cahaya? sehingga jika cahaya dapat dibengkokkan oleh gravitasi lantas waktu juga sama seperti itu?
Jika selama ini yang dijadikan patokan oleh Einstein tentang waktu adalah cahaya, lantas bagaimana dengan penemuan sebuah tim peneliti dari Ecole Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL) mengumumkan keberhasilan mereka, untuk pertama kalinya mengendalikan kecepatan dari cahaya, bisa mempercepat maupun memperlambat cahaya, lantas apakah tim tersebut dapat dikatakan dapat memperlambat dan mempercepat waktu?
Sepemikiran saya, bahwa waktu adalah sesuatu yang tidak dapat dipercepat, ataupun diperlambat. Yang pasti bahwa materi dalam ruang ini lah yang dapat bergerak dipercepat, diperlambat ataupun dihentikan. Waktu adalah konstan, tidak bersifat relative, yang relative adalah pergerakan materi dalam ruang ini.
Waktu sangat tergantung terhadap keberadaan ruang, tapi ruang tidak bergantung terhadap keberadaan waktu.
Karena sifat waktu yang tergantung kepada ruang, maka jika semua materi yang bergerak dalam ruang (semesta) ini dihentikan maka waktu akan berhenti. tapi berhentinya waktu tersebut tidak serta merta memusnahkan ruang. Namun jika ruang (semesta) ini yang dimusnahkan, maka akan dengan sendirinya tidak akan ada waktu.
Pergerakan suatu materi dalam ruang berbanding terbalik dengan pergerakan waktu.
Kita dapat menembus masa depan kita, jika kita mampu bergerak mengerjakan sesuatu lebih cepat daripada orang lain, namun keberadaan kita tetap berdampingan dengan orang lain dalam waktu yang sama yang pergerakannya lebih lambat. Kita tidak berada pada minggu depan, bulan depan atau tahun depan daripada orang yang lebih lambat. Tapi sesuatu yang kita hasilkanlah yang akan mengatakan bahwa kita lebih baik dan berada di depan daripada orang lain yang lebih lambat.
Maka, jadikanlah hari ini lebih baik daripada kemarin.
Merugilah orang-orang yang pada hari ini lebih buruk daripada kemarin. (al-hadits)
Ruang Waktu Bagian 2 Klik Disini
Oleh : Husnul Yakin Ali
Mengenal Alam Semesta
Diterangkan bahwa Allah membuat tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi. Jika kita maknai bahwa langit adalah sesuatu yang berada di atas kita, maka para ahli astronomi membagi beberapa nama dan tingkatan dalam mengelompokkan benda langit.
- Tata Surya = Langit Pertama
- Galaksi = Langit Kedua
- Nebula = Langit Ketiga
- Himpunan Nebula = Langit Keempat
- Grup Nebula = Langit Kelima
- Guci = Langit Keenam
- Alam Semesta = Langit Ketujuh
Jika kita membuat perhitungan jarak antar kelompok dan grup benda langit tersebut adalah sebagai berikut:
- Jarak dari Bumi ke Matahari = 150.000.000 km
- Jarak Matahari ke Pluto = 5.900.000.000 km
- Jarak Tata Surya kita ke pusat Bima Sakti = 50.000 tahun cahaya
- Jarak Bima Sakti ke pusat Nebula = 50.000 X 100 milyar tahun cahaya
- Jarak Nebula ke pusat Himpunan Nebula = 50x10p25 tahun cahaya
- Jarak Himpunan Nebula ke pusat Grup Nebula = 50x 10p25 x 10p11 tahun cahaya
- Jarak Grup Nebula ke pusat Guci = 50x 10p36 x 10p11 tahun cahaya
- Jarak Guci ke pusat Alam Semesta = 50x 10p47 x 10p11 tahun cahaya
Subhanallah!
Oleh : Husnul Yakin Ali
Hikmah Peristiwa Isra Mi'raj
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (Q.S. Al-Baqarah : 2)
Jauh sebelum terlahirnya Wilbur Wright, Allah telah mempertunjukkan kekuasaan-Nya menerbangkan manusia (Nabi Muhammad) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Hal ini hendaknya dijadikan suatu pelajaran bagi kita dan suatu bukti keotentikan Alqur-an bahwa di dalamnya tidak akan ada hukum yang berbenturan dengan ilmu pengetahuan modern.
Dalam peristiwa Isro kala itu, Allah Swt. seolah-olah menantang manusia, dan ingin mempertunjukan ilmunya bahwa manusia dapat melintasi Masjidil Haram ke Masjidil Aqso hanya dalam beberapa waktu saja. Dan janji Allah terbuktikan, bahwa kisah yang dahulu dianggap mimpi sekarang sudah tidak ada lagi yang bisa membantahnya.
Jika Allah Swt. telah membuktikan janjinya, dan telah memperlihatkan mimpi Nabi tersebut sebagai sebuah kenyataan dalam peristiwa Isro, lantas bagaimana dengan peristiwa Mi’roj? Akankan Allah Swt. membuktikan mimpinya Rasululloh sehingga kelak ada manusia yang dapat menembus jagad raya? Wallahu a’lam bisshowab.
“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya ……………….” (Al-Fath : 27)
“………………..agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. ……………..” (Q.S. Al-Isra : 1)
Pada Surat Al-Fath ayat 27 Allah berjanji akan membuktikan kebenaran mimpi Rasululloh, namun pada Surat Al-Isra ayat 1 Allah pun menerangkan bahwa hanya akan diperlihatkan sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya.
Saya tertarik dari arti “sebagian” pada Surat Al-Isra ayat 1 di atas. Sebagian mempunyai arti yang sangat luas. Sebagian tidak bisa ditafsirkan dengan setengahnya, tidak pula dengan seperempatnya, dan tidak pula dengan sepertiganya. Atau ditafsirkan dengan angka-angka lainnya. Kata sebagian mempunyai makna tak terhingga.
Namun hingga tulisan ini dibuat, saya mempunyai keyakinan penuh bahwa “sebagian” yang ingin Allah tunjukan kepada manusia tentang alam semesta masih tersisa banyak, sehingga masih ada peluang dan waktu bagi manusia untuk dapat berfikir mentafakuri ciptaan yang Maha Kuasa.
Oleh : Husnul Yakin Ali
Benarkah Isro Mi'raj itu?
Sesuatu hal yang wajar jika kita mengatakan bahwa tidak ada yang tak mungkin bagi Tuhan, jika Ia telah berkehendak, “Kun faya kun”, jadilah maka jadi. Namun, jika kita tafakuri setiap kehendak Sang Pencipta, tentulah disertai dengan hukum penciptaan, sehingga saya sendiri mempunyai pemikiran bahwa setiap kehendak Sang Pencipta adalah “hukum alam”.
Allah adalah sesuatu Dzat yang teramat Maha, sesungguhnya Dia tidak memerlukan suatu perantara (makhluk) untuk mencapai tujuan yang diinginkan-Nya. Namun, apakah kita lupa, bahwa diturunkannya setiap wahyu melalui perantara (malaikat Jibril)? atau akankah kita melupakan kisah Mi'roj Nabi memakai kendaraan bernama Buroq?, lantas kalau memang kisah Isro Mi’roj diartikan sebagai memperjalankan pada malam hari, kenapa Tuhan tidak menggunakan kuasa-Nya secara mutlak (tidak melalui perantara) dalam hal ini kendaraan (Buroq) dan pengawal (Malaikat)? Sesungguhnya apa yang ingin Tuhan pertunjukkan kepada kita?
“………………..agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. ……………..” (Q.S. Al-Isra : 1)
Maha Suci Allah, sesungguhnya Ia akan menepati semua janji-Nya.
Kini setelah 1.400 tahun yang lalu, disaat semua ilmu pengetahuan sedikit demi sedikit telah dibukakan oleh Allah untuk manusia, jarak antara Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa sudah tidak masalah jika harus ditempuh hanya dalam beberapa jam saja.
Sungguh suatu janji Allah yang telah diperlihatkan kepada umat manusia. Kalau kisah Isro dahulu hanya dianggap sebagai mimpi, maka renungkanlah Firman Allah di bawah ini:
“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya ……………….” (Al-Fath : 27)
Setelah ditemukannya pesawat terbang, apakah sudah terbuka semua misteri peristiwa Isro Mi’roj? Saya rasa tidak, dalam peristiwa tersebut disebutkan bahwa Nabi Muhammad setelahnya sampai ke Masjidil Aqsa, beliau diperjalankan kembali menuju langit ke tujuh untuk menerima perintah sholat.
Allahuakbar!
Oleh : Husnul Yakin Ali
Misteri Isra Mi'raj
Ketika itu pada suatu malam, nabi dijemput oleh malaikat yang membawanya melintas di keheningan malam dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa dan setelah itu perjalanan dilanjutkan menembus Jagad Raya menuju Sidratul Muntaha; suatu tempat paling tinggi yang diciptakan Allah. Perjalanan tersebut hanya dilakukan pada satu malam saja.
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (al-Isra : 1)
Hingga saat ini telah banyak tulisan hasil karya para ahli yang mengupas peristiwa Isro Mi’roj dari berbagai segi. Hal ini menunjukkan bahwa sungguh tak habis-habisnya misteri yang terkandung dalam peristiwa yang telah berlangsung lebih dari 1.400 tahun yang lalu tersebut, yang menandakan begitu banyak misteri hukum alam (hukum Allah) yang tersimpan di balik peristiwa Isro Mi’roj tersebut.
Jika sekilas saja kita membayangkan kisah tersebut, sepertinya sesuatu hal yang sangat mustahil dilakukan oleh makhluk Tuhan yang bernama manusia. Benarkan demikian? lalu makhluk seperti apa Nabi Muhammad tersebut sehingga bisa melaksanakan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan dilanjutkan menembus Sidratul Muntaha hanya dalam satu malam? Padalah Allah telah jelas-jelas menegaskan bahwa Nabi merupakan sosok dari jenis manusia.
“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya” (Fushilat : 6)
Oleh : Husnul Yakin Ali